top of page

Fitness Group

Public·75 members
Ewurafua Ainooson
Ewurafua Ainooson

Skenariofilmlaskarpelangiebook39


Skenario Film Laskar Pelangi: Sebuah Adaptasi Novel yang Inspiratif




Laskar Pelangi adalah sebuah novel karya Andrea Hirata yang bercerita tentang kisah nyata sepuluh anak dari sebuah sekolah miskin di Belitung. Novel ini menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang paling populer dan berhasil diadaptasi ke dalam film layar lebar pada tahun 2008. Film ini disutradarai oleh Riri Riza dan ditulis oleh Salman Aristo, Riri Riza, dan Mira Lesmana. Bagaimana proses penulisan skenario film Laskar Pelangi? Apa saja tantangan dan keberhasilan yang dihadapi oleh tim penulisnya? Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang skenario film Laskar Pelangi.


Menyederhanakan Novel ke dalam Skenario




Salah satu tantangan terbesar dalam menulis skenario film Laskar Pelangi adalah menyederhanakan novel yang memiliki lebih dari 400 halaman ke dalam skenario yang hanya berdurasi sekitar dua jam. Novel Laskar Pelangi memiliki banyak karakter, latar, dan peristiwa yang tidak mungkin semuanya dimasukkan ke dalam film. Oleh karena itu, tim penulis harus memilih dan memilah mana saja bagian-bagian penting yang harus ada di film dan mana yang bisa dihilangkan atau digabungkan. Tim penulis juga harus mempertimbangkan aspek dramatis, emosional, dan visual dari cerita agar filmnya bisa menarik dan menyentuh hati penonton.




skenariofilmlaskarpelangiebook39


Download File: https://www.google.com/url?q=https%3A%2F%2Ft.co%2FtWQ0cMuEWL&sa=D&sntz=1&usg=AOvVaw3B3x2AH5b3vrpaKjy3n26b



Salman Aristo, salah satu penulis skenario film Laskar Pelangi, mengatakan bahwa ia bersama timnya membaca novelnya berkali-kali dan membuat outline dari setiap babnya. Kemudian mereka membagi outline tersebut menjadi tiga bagian: bagian yang harus ada di film, bagian yang bisa dihilangkan, dan bagian yang bisa digabungkan dengan bagian lain. Setelah itu, mereka mulai menulis skenario dengan mengikuti outline tersebut. Salman mengaku bahwa ia tidak terlalu khawatir dengan kesetiaan skenario terhadap novel, karena ia percaya bahwa film dan novel adalah dua media yang berbeda dan memiliki cara bercerita yang berbeda pula. Ia lebih fokus pada bagaimana membuat filmnya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah karya seni yang berkualitas.


Menambahkan Adegan Baru ke dalam Skenario




Selain menyederhanakan novel, tim penulis skenario film Laskar Pelangi juga menambahkan beberapa adegan baru yang tidak ada di novel. Tujuannya adalah untuk memperkaya cerita, menambah konflik, atau memberikan nuansa baru. Beberapa contoh adegan baru yang ditambahkan oleh tim penulis adalah:



  • Adegan saat Mahmud menyatakan cinta kepada Bu Muslimah, guru wanita satu-satunya di sekolah Laskar Pelangi. Adegan ini menunjukkan sisi romantis dari Mahmud yang tidak terlihat di novel.



  • Adegan saat Pak Harfan, kepala sekolah Laskar Pelangi, meninggal dunia karena sakit. Adegan ini membuat Bu Muslimah sedih dan tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Akibatnya, Lintang, salah satu murid paling cerdas di sekolah, mengambil alih peran guru dan mengajar teman-temannya. Adegan ini menunjukkan betapa besar pengaruh Pak Harfan bagi sekolah dan betapa hebatnya Lintang sebagai murid.



  • Adegan saat Ikal dan Arai bertemu dengan Flo, seorang gadis Belanda yang sedang berlibur di Belitung bersama keluarganya. Adegan ini menunjukkan perbedaan budaya dan latar belakang antara anak-anak Belitung dengan anak-anak asing.




Adegan-adegan baru ini berhasil membuat film Laskar Pelangi lebih hidup dan variatif. Bahkan Andrea Hirata, penulis novelnya, mengaku bahwa ia menyukai adegan-adegan baru tersebut dan merasa bahwa filmnya lebih bagus dari novelnya.


Menghadapi Kritik dari Pembaca Novel




Meskipun film Laskar Pelangi mendapat banyak pujian dan penghargaan, tidak sedikit juga pembaca novel yang merasa kecewa dengan filmnya. Mereka merasa bahwa filmnya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka atau tidak setia dengan novelnya. Beberapa kritik yang sering dilontarkan oleh pembaca novel adalah:



  • Adegan karnaval yang di novelnya digambarkan sebagai adegan yang megah dan meriah, tetapi di filmnya terlihat biasa saja dan tidak menarik. Kostum yang dikenakan oleh anak-anak Laskar Pelangi juga terlihat sederhana dan tidak kreatif.



  • Adegan gatal-gatal yang dialami oleh anak-anak Laskar Pelangi setelah mengenakan kostum karnaval buatan mereka sendiri. Adegan ini di novelnya sangat lucu dan menghibur, tetapi di filmnya dibuat seadanya dan tidak mengundang tawa.



  • Adegan saat Lintang harus berpisah dengan teman-temannya karena ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Adegan ini di novelnya sangat menyedihkan dan mengharukan, tetapi di filmnya terasa kurang emosional dan dramatis.




Tim penulis skenario film Laskar Pelangi mengakui bahwa mereka tidak bisa memuaskan semua pembaca novel, karena setiap orang memiliki imajinasi dan interpretasi yang berbeda-beda tentang novel. Mereka berusaha untuk membuat film yang sebaik mungkin dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti anggaran, lokasi, waktu, dan teknis. Mereka juga berharap bahwa penonton bisa menikmati film Laskar Pelangi sebagai sebuah karya seni yang independen dan tidak terlalu membandingkannya dengan novelnya.


Kesimpulan




Skenario film Laskar Pelangi adalah sebuah hasil adaptasi novel yang inspiratif. Tim penulis skenario berhasil menyederhanakan novel yang panjang dan kompleks ke dalam skenario yang singkat dan padat. Mereka juga berhasil menambahkan beberapa adegan baru yang membuat filmnya lebih hidup dan menarik. Meskipun mendapat beberapa kritik dari pembaca novel, film Laskar Pelangi tetap menjadi salah satu film Indonesia yang paling sukses dan dicintai oleh banyak orang.


Referensi:



  • [Skenario Film Laskar Pelangi - IDS International Design School]



  • [Skenario Film Laskar Pelangi Ebook 39golkes ((FULL))]



  • [Skenario Film Laskar Pelangi Ebook 39golkes - SoundCloud]




About

Welcome to the group! You can connect with other members, ge...

Members

bottom of page